Pagi yang sedikit mendung di bulan Januari, kereta listrik ekonomi menderu deru antarkan ku bersama ribuan kepala lainnya menuju Jakarta di pagi buta. Penuh sesak sejuta aroma merebak disela-sela ketiak yang berkeringat, yeah tentunya akan lebih buruk jika di musim panas, harga yang pantas untuk tiket kereta murmer antar kota yang sudah mulai renta ini.
Perlahan cahaya pagi menyeruak di antara tebalnya awan mendung. Kabut yang menyelimuti perkebunan Citayem terbelah roda-roda baja kereta ini. Orang-orang di sekitar stasiun mulai sibuk menjajakan dagangannya dari gerbong kegerbong. Suasana didalam kereta gelap dan sedikit becek, penuh sesak seakan tak ada tempat berpijak, “oh Tuhan suasana ini memiliki medan energi yang besar sekali”.. lalu aku sedikit bergumam, lihatlah semua ini.. mesin ini, semangat ini, harapan ini. di gerbong kusam ini ada sekitar dua puluh ribu penumpang, tua muda, dari balita sampai manula, yang cantik yang gagah, yang gemuk yang kurus, yang segar bugar dan yang sakit sakitan pun ada disini, semua akan bertebaran sesampainya di Jakarta, kota yang punya segudang cerita itu. Semangat merubah nasib supaya lebih baik, atau hanya sekedar menyambung hidup sehari-hari. Akh semakin ngelantur saja hayalku, tak sadar sedari tadi ada wanita cantik berdiri disela-sela pria kekar dengan baju yang lusuh dan basah oleh keringat, tersudut dengan wajah yang mau muntah sambil sesekali menutup hidung. Lamunanku buyar saat pandangannya tertuju pada ku. Seolah menjerit minta tolong untuk lepas dari cengkraman raksasa lapar. ketika ku perhatikan, aduhai cantik nya dia. matanya bening dengan pipi merona dihiasi hidung bangir dan sedikit lesung pipit di pipinya. mungkin umurnya sekitar 22 tahunan. Lelahku hilang dalam waktu sekejap saat dia berkata.
“maaf mas bisa geser sedikit”
“oh Mangga neng…” (oh silahkan mbak)
hmpf .. saking groginya sampai- sampai aku pakai bahasa sunda.
aku terdiam sesaat meski jantung berdegup setelah wanita tersebut berdiri disampingku menghadap kearahku smbil menunduk disempitnya ruang gerak yang memaksa semua orang saling bersinggungan.
“sempit banget ya mbak ?” cletuk ku membuka percakapan.
“iya” jawabnya singkat
“naik dari mana?”
“dari bogor”
“sama dong kita” sambil ku lempar senyum
“iya” dia membalas senyum singkat.
sementara orang-orang disebelah ku dengan berbagai posisi terlihat memperhatikan percakapan.
Kereta terus meluncur dengan mesin yang menderu-deru. 6 stasiun sudah terlewati mengantarkan penumpangnya menuju setasiun depok baru. volume penumpang yang sudah pada puncaknya membuat ruang kereta semakin penuh sesak. Ruang yang terbatas membuat puluhan penumpang lainnya memilih duduk di atap kereta. Laju kereta meliuk bak ular raksasa mengikuti alurnya terkadang miring kekiri, kadang miring kekanan, membuat seisi penumpang semakin terjepit. Ada yang berdiri dengan satu kaki, bahkan ada yang berdiri tepat dipintu yang terbuka mengandalkan kekuatan jemarinya yg mulai pegal.
percakapan kecil ku berhasil memancing Lola (mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta yang sedang PKL di Jakarta) ke obrolan yang lebih jauh.
“stasiun Dukuh Atas? bukanya kereta ini ke arah stasiun kota, terus turun dimana?” tanya lola penasaran.
“iya sih harusnya aku turun di stasiun Depok tadi, terus nyambung dgn kreta ekonomi AC jurusan tanah abang untuk kmudian turun di stasiun Dukuh Atas, tapi.. berhubung kita keasyikan ngobrol yaa ga apa-apalah, masih banyak jalan menuju Roma he he”
“kita..? situ kali gw ngga” tukasnya seraya mengangkat alisnya disusul tawa geli
Percakapan terus berlanjut seiring dengan beberapa setasiun yang terlewati, tak biasanya perbincangan dengan orang yang baru asing jadi seakrab ini. mungkin aku berada di tempat, waktu dan sikon yang tepat, dan tentunya kereta yang tepat. Terasa tentram bisa bercanda-canda dengan wanita secantik lola, tidak peduli dengan sesaknya penumpang dan celotehan disana-sini. semua seperti membisu bahkan suara kereta nyaris tak terdengar. binar matanya bak berlian berkilauan diantara besi besi gerbong tua, suara merdunya mengalun seperti petikan harpa di bisingnya desir kereta, walah- walah mengharap dari sekedar pertemuan sesaat. tapi semua bisa terjadi. Tuhan sedang baik pagi ini.
terahir sebelum percakapan terputus karena aku harus turun di stasiun Cikini, ku keluarkan jurus terahir
“oya, la punya obeng??”
” huh mau nanya no hp pasti!” dengan sekejap jurus ku dipatahkan.
“iya, ada kan la?” tanya ku sambil berharap
“maaf ya… soalnya suka banyak yang iseng nelp ke hp gw”
“jangan samakan dong la sama yang lain” bujuk ku,
aku tau orang-orang disekitarku mendoakan keberhasilan dalam membujuk lola, ada yang membisikan ayo! kamu bisa!. ada yg meneriakan yel-yel dalam hatinya “Ayo…ayo!” ada juga yang berekspresi seperti seolah-olah menonton jagoan kesebelasannya sebentar lagi menjebol gawang musuh.
Stasiun Cikini terlihat dijejali penumpang yang baru turun dari kereta, hawa panas didalam kereta berganti dengan segarnya udara di luar gerbong. Ratusan penumpang turun dari kereta seperti air yang meluber dari bejana. Pakaian lusuh dan basah akan kering diluar sini. terlihat sesekali para penumpang merapikan barang-barang yang dibawanya, ada pula yang bertengkar karena saling dorong keluar dari kereta, akh pemandangan biasa. Lola tak terlihat lagi setelah pergumulan dengan manusia-manusia kereta ini. hmm gagal ku minta no kontak nya, ntah kapan ku bertemu dengannya lagi, bila saja aku punya kartu nama mungkin keadaannya sedikit berbeda, dia simpan no kontakku dan suatu saat menghubungiku. sudahlah, jam sudah menunjukan pukul 08:14 itu artinya aku terlambat 14 menit. ayo Semangat- Semangat! aku mendadak jadi sedikit lesu, ntah karena lelah berdiri dan berhimpitan di kereta dari Bogor hingga Jakarta, atau lesu karena tidak dapat no handphone si Lola yang tinggi semampai itu. sambil menuruni anak tangga stasiun pandangan ku tak fokus mengingat kejadian-kejadian tadi. Aku masih harus naik bus patas di seberang jalan sekitar 500 meter dari stasiun. beberapa teman kereta menyapa sambil bergegas karena terlambat. dipikiranku terbersit untuk menaiki kereta yang sama, gerbong yang sama dan jam yang sama esok hari, hanya dengan cara itu mungkin bisa bertemu lagi dengan dia. Sambil berjalan aku terus tertegun. deretan toko-toko kerajinan rotan tampak sepi saat itu. Dan waktu pun terus berlalu hingga sampailah di sisi jalan raya untuk bersiap untuk menyebrang.
Ups pandanganku terbelalak seakan tak percaya, sambil mengernyitkan dahi tertuju ke satu titik diseberang jalan. Ya.. si Lola sedang menunggu bis disana sambil tertawa kecil melambai-lambai kerahku. Seakan tak percaya ku ikuti saja kemana kaki ini melangkah bak adegan film romance india dengan slow motion nya, ku tahan senyumku dan kuhampiri dia.
“Lha La kok dikau turun di Cikini juga, bukannya..”
“emang, gw turun diCikini gw juga ga nyangka lu turun disini ?!” sambungnya
“oiya ya saking asyiknya kita ngobrol, sampai lupa nanya turun distasiun mana? tau gitu tadi kita barengan” ungkapku (dengan hati berbunga ..)
“kita..?!”
“situ kali sama sumur” sambungku so’ asyik tapi berhasil bikin lola ketawa (duh senangnya)
“dasar..! ha ha ha ha. Ton tau ga, gw juga ga sengaja naik kereta ekonomi. biasanya naik yang express”
“biasanya klo udah keenakan naik KRL express, ogah naik yang ekonomi, udah wangi dari rumah pudar deh wanginya” jawab ku
“iya neh abis mau gimana lagi namanya juga ketelatan dari jadwal keberangkatan KRL express, btw besok-besok kita janjian yuk” ucapnya dengan wajah merona, asli kata-kata terahir tadi enak sekali didengar.
“ayuk tapi gimana janjiannya? makanya minta no..”
Eh..Eh tuh bis gw udah dateng gw musti caw ton” terlihat nenggak-nenggak melihat kearah busnya yang menurutku terlalu cepat datang menghampiri.
“yaah.. la yaah.. urusan kita lom selesai neh” nada ku melemah seraya menagih suatu yang tertunda padanya.
“hmm gw duluan ya?”
“iya deh” sambil garuk-garuk kepala
“kapan jumpa lagi kita?” sambungku
“kapan-kapaan..!” ejeknya melihat muka ku yang seperti mau tumpah.
“huh lola?”
“Nih..! tadi gw catet sambil jalan tadi” jemarinya tiba tiba mengulurkan secuil kertas dengan wajah tulus sedikit malu-malu menghadap kearah ku.
“Ayo mbak naek – naek ” Seru knek bus sambil memukul-mukul pintu bus.
Lola pun menaiki bus kota tersebut lantas berlalu, wajahnya menghadapku sampai bus yang dinaikinya menghilang diantara kendaraan-kendaraan yang melaju. Tinggalah aku diantara orang-orang sekitar yang tersenyum-senyum sendiri. entah apa yang mereka pikirkan aku tak tahu. kubuka secarik kertas yang Lola berikan dan ternyata memang seperti yang ku harapkan, 2 nomor kontaknya dengan tulisan “jangan buat iseng yach”. Satu kalimat yang memiliki arti positif dalam melanjutkan hubungan ini kedepan, baiklah ini ending yang menyenangkan, sekelumit cerita dipagi hari yang membuat secangkir kopi terasa lebih nikmat di saat ku duduk di kantin samping kantorku. Hmm udara pagi ini sejuk sekali, jalan-jalan protokol masih basah diguyur hujan rintik tadi pagi. Dedaunan berjatuhan perlahan menambah semarak burung gereja yang saling bersahutan. Nampak dari kejauhan gedung-gedung bertingkat jelas terlihat tak tertutup kabut polusi seperti biasanya.
Kuhirup dalam-dalam buih kopiku, seraya memejamkan mata. “Trimakasih Tuhan kau dengan segala dayamu berikanku kekuatan positif untuk merubah semuanya jadi positif, akankah ini tetap indah dan penuh warna? “
Tidak ada yang tahu sampai ku kuhubungi si dia yang senyum manisnya masih saja melekat dihati.