<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sulthoni Blog</title>
	<atom:link href="http://sulthonirachman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sulthonirachman.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jan 2009 04:54:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sulthonirachman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sulthoni Blog</title>
		<link>http://sulthonirachman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sulthonirachman.wordpress.com/osd.xml" title="Sulthoni Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sulthonirachman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Puisi Tentang Ibu</title>
		<link>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/30/puisi-tentang-ibu/</link>
		<comments>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/30/puisi-tentang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 04:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulthonirachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulthonirachman.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[berjalan dengan langkah rapuhmu meniti lembah sunyi batin yang meratap gaung ku panggil kau yang lama berlalu telusuri kisah sedihmu nan malang melintang ibu.. jauh lah sudah kau melang-lang sampai tak tersiar lagi kau kudengar ku layu dihampanya dunia  bagai pucuk padi di sawah kering. lubuk hatiku berpaut asa bathin ku merasa kau lah  sejuta kasih yang hilang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=42&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>berjalan dengan langkah rapuhmu</p>
<p>meniti lembah sunyi batin yang meratap</p>
<p>gaung ku panggil kau yang lama berlalu</p>
<p>telusuri kisah sedihmu nan malang melintang</p>
<p>ibu..</p>
<p>jauh lah sudah kau melang-lang</p>
<p>sampai tak tersiar lagi kau kudengar</p>
<p>ku layu dihampanya dunia </p>
<p>bagai pucuk padi di sawah kering.</p>
<p>lubuk hatiku berpaut asa</p>
<p>bathin ku merasa</p>
<p>kau lah  sejuta kasih yang hilang</p>
<p>wajah sayumu membingkai masa lalu abu-abu</p>
<p>luntur  sudah lama ditelan waktu.</p>
<p>ibu</p>
<p>hidupku hilang tanpa surgamu</p>
<p>Rindu aku mendekap kasih mu</p>
<p>meski hanya setitik</p>
<p>segarkan dahaga di padang gersang ini</p>
<p>ibu</p>
<p>jika kelak kita bertemu</p>
<p>ajaklah aku serta ikut dengan mu</p>
<p>atau ikutlah bersama di bahtera kecilku</p>
<p>disini ada selimut hangat dan bahan makanan</p>
<p>pasti engkau akan suka</p>
<p>agar tiada lagi kesedihan yang membelenggu hati</p>
<p>berganti kebahagiaan merkah di ahir cerita</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulthonirachman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulthonirachman.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=42&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/30/puisi-tentang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0310fccc60ba5d5e78eacff5f1d3ece5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">oni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebelum Memulai Usaha</title>
		<link>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/30/sebelum-memulai-usaha/</link>
		<comments>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/30/sebelum-memulai-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 02:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulthonirachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulthonirachman.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan jatuh bangunnya merintis sebuah usaha, keberhasilan yang diperoleh dari usaha yang dirintis bertahun-tahun bisa berbuah manis sekali. Penghasilan tanpa batas, program kerja yang bisa kita atur sendiri, atau tidak ada yang membebebani dengan peraturan dan disiplin yang mengikat seperti bekerja disebuah instansi atau perusahaan. Telah kita ketahui bersama, membangun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=38&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan jatuh bangunnya merintis sebuah usaha, keberhasilan yang diperoleh dari usaha yang dirintis bertahun-tahun bisa berbuah manis sekali. Penghasilan tanpa batas, program kerja yang bisa kita atur sendiri, atau tidak ada yang membebebani dengan peraturan dan disiplin yang mengikat seperti bekerja disebuah instansi atau perusahaan.</p>
<p>Telah kita ketahui bersama, membangun usaha selain harus dibarengi modal,  juga memerlukan jiwa enterpreneur dan wawasan kewirausahaan yang memadai, salah-salah membangun usaha tanpa dibarengi ilmu pengetahuan bisa memakan waktu yang lama karena harus merasakan kegagalan demi kegagalan lagi sebelum mencapai goal yang diimpikan. Metode Trial-error ini sangat beresiko, karena dapat mempengaruhi smua aspek dalam keutuhan usaha yang kita jalani. Seperti yang dilakukan Thomas Alfa Edison dalam menemukan bola lampu pijar di tahun 1879. Beliau harus menempuh 1001 kegagalan sebelum menemukan keberhasilan yang tak terbayangkan dunia ilmu pengetahuan sebelumnya.</p>
<p>Sekarang kita yang berada di era Informasi ini bisa mendapatkan banyak referensi baik dari buku, media elektronik dan lainnya yang memuahkan dalam memulai bisnis, sumber yang tak kalah pentingnya yaitu riset, survey dan bertanya pada orang yang berpengalaman sesuai bidang yang akan kita jalani. Karena dengan bertanya pada orang-orang yang sda berpengalaman, itu artinya kita menemukan jalan pintas dan kemudahan, karena mendapatkan jawaban langsung dari narasumber hal yang patut dipertimbangkan dalam menempuh keberhasilan usaha.<br />
Sebagai contoh si A ingin menjalankan usaha berternak ikan Nila air deras, modal sudah dicairkan untuk membeli berbagai kebutuhan sesuai buku petunjuk berternak Nila yang dia baca. Sebulan menjelang panen tiba, hujan deras membuat sungai pasng dan keruh, air sungai yang keruh kecoklatan membuat sebagian ikan-ikan Nila si A yg siap panen tersebut mati, beberapa ada yang kabur/ menerobos loncat melalui saluran air masuk kolam karena air pasang. Enggan bertanya pada orang berpengalaman membuat si A harus merasakan kegagalan pahit sebelum merasakan keberhasilan berternak Nila. Padahal peternak Nila berpengalaman lainnya yg letaknya tak jauh  dengan kolam2 si A  tidak mengalami hal serupa.<br />
Contoh serupa dialami si B yang mau membangun usaha studio pembuatan komik lokal. Dengan modal seadanya dibarengi tekad idealis yang kuat, si B bersama 4 temannya merintis usaha membuat komik berjudul misal &#8221; Si Buta Dari Gunung Rinjani&#8221;. Naskah telah di selesai diketik, biaya tak bisa diperkirakan untuk membuat dapur tetap ngebul selama tenggang waktu pengerjaan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. si B kadang harus ngepush kocek pribadi demi keutuhan studio yang kadang diwarnai suka duka. setelah 8bulan/ hampir 1 th pengerjaan, komik &#8220;Si Buta Dari Gunung Rinjani&#8221; telah selesai, kualitas oke, cerita cukup bagus, penuh adegan laga dan heroik. setelah semua selesai si B mendapatkan ide untuk memasarkannya (baru mendapatkan ide). si B datang ke sebuah perusahaan penerbit nomor 1 di jakarta, dengan membawa proposal kerja sama si B memilih sistem bagi hasil (karena tidak punya modal untuk menerbitkan sendiri). Tahap-demi tahap acc dijalani dengan penuh percaya diri. Tapi perusahaan tersebut berpendapat lain. Si B bersama teman-temannya harus menelan pil pahit,  karyanya tidak bisa dicetak oleh karena masalah ukuran kertas yang tidak sesuai standar komik pada umumnya (kecuali jika mau produksi dengan modal sendiri). Faktor lain dikarenakan judulnya kurang komersil dan perusahaan tersebut ngga mau ambil resiko jika komiknya nanti tidak laris. Wal hasil si B bersama temannya pulang dengan putus asa dan baru menyadari pentingnya riset dan survey sebelum mewujudkan cita-citanya.<br />
Sekelumit cerita hendaknya menjadi perhatian buat kita semua yang sedang atau akan menjalani usaha. Semua jenis usaha tentu ada &#8220;ilmunya&#8221;. makin besar bidang usaha yang akan dijalani, makin besar juga pengetahuan yang harus dikuasai. riset dari berbagai sumber dan survey pasar yang terangkum dalam manajemen dalam mengelola usaha. Kita tentunya tidak mau mengalami hal seperti yang dialami si A yang memakai &#8220;kaca mata kuda&#8221; atau si B yang seperti &#8220;kura-kura dalam tempurung&#8221; dalam merintis usaha.<br />
Setelah semuanya dilakukan, referensi telah didapat, kita sudah mengenali prilaku pasar sebagai target market usaha kita, masih ada syarat yang akan sangat menentukan, satu hal yang dapat meminimalisir resiko tersebut, yang membuat Edison dengan lampu pijarnya berhasil menerangi dunia di malam hari.  jawabannya bisa anda simpan dalam hati masing-masing atau anda boleh berikan ide itu untuk saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulthonirachman.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulthonirachman.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=38&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/30/sebelum-memulai-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0310fccc60ba5d5e78eacff5f1d3ece5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">oni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cikini Bersemi</title>
		<link>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/20/di-sudut-jakarta/</link>
		<comments>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/20/di-sudut-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 03:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulthonirachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[kronologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sulthonirachman.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Pagi yang sedikit mendung di bulan Januari,  kereta listrik ekonomi menderu deru antarkan ku bersama ribuan kepala lainnya menuju Jakarta di pagi buta. Penuh sesak sejuta aroma merebak disela-sela ketiak yang berkeringat, yeah tentunya akan lebih buruk jika di musim panas, harga yang pantas untuk tiket kereta murmer antar kota yang sudah mulai renta ini. Perlahan cahaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=9&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi yang sedikit mendung di bulan Januari,  kereta listrik ekonomi menderu deru antarkan ku bersama ribuan kepala lainnya menuju Jakarta di pagi buta. Penuh sesak sejuta aroma merebak disela-sela ketiak yang berkeringat, yeah tentunya akan lebih buruk jika di musim panas, harga yang pantas untuk tiket kereta murmer antar kota yang sudah mulai renta ini.</p>
<p>Perlahan cahaya pagi menyeruak di antara tebalnya awan mendung. Kabut yang menyelimuti perkebunan Citayem terbelah roda-roda baja kereta ini. Orang-orang di sekitar stasiun mulai sibuk menjajakan dagangannya dari gerbong kegerbong. Suasana didalam kereta gelap dan sedikit becek, penuh sesak seakan tak ada tempat berpijak, &#8220;oh Tuhan suasana ini memiliki medan energi yang besar sekali&#8221;.. lalu aku sedikit bergumam, lihatlah semua ini.. mesin ini, semangat ini, harapan ini. di gerbong kusam ini ada sekitar dua puluh ribu penumpang, tua muda, dari balita sampai manula, yang cantik yang gagah, yang gemuk yang kurus, yang segar bugar dan yang sakit sakitan pun ada disini, semua akan bertebaran sesampainya di Jakarta, kota yang punya segudang cerita itu. Semangat merubah nasib supaya lebih baik, atau hanya sekedar menyambung hidup sehari-hari. Akh semakin ngelantur saja hayalku, tak sadar sedari tadi ada wanita cantik berdiri disela-sela pria kekar dengan baju yang lusuh dan basah oleh keringat, tersudut dengan wajah yang mau muntah sambil sesekali menutup hidung. Lamunanku buyar saat pandangannya tertuju pada ku. Seolah menjerit minta tolong untuk lepas dari cengkraman raksasa lapar. ketika ku perhatikan, aduhai cantik nya dia. matanya bening  dengan pipi merona dihiasi hidung bangir dan sedikit lesung pipit di pipinya. mungkin umurnya sekitar 22 tahunan. Lelahku hilang dalam waktu sekejap saat dia berkata.</p>
<p>&#8220;maaf mas bisa geser sedikit&#8221;</p>
<p>&#8220;oh Mangga neng&#8230;&#8221; (oh silahkan mbak)</p>
<p>hmpf .. saking  groginya sampai- sampai aku pakai bahasa sunda.</p>
<p>aku terdiam sesaat meski jantung berdegup setelah wanita tersebut berdiri disampingku menghadap kearahku smbil menunduk disempitnya ruang gerak yang memaksa semua orang saling bersinggungan.</p>
<p>&#8220;sempit banget ya mbak ?&#8221; cletuk ku membuka percakapan.</p>
<p>&#8220;iya&#8221; jawabnya singkat</p>
<p>&#8220;naik dari mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;dari bogor&#8221;</p>
<p>&#8220;sama dong kita&#8221; sambil ku lempar senyum</p>
<p>&#8220;iya&#8221; dia membalas senyum singkat.</p>
<p>sementara orang-orang disebelah ku dengan berbagai posisi terlihat memperhatikan  percakapan.</p>
<p>Kereta terus meluncur dengan mesin yang menderu-deru. 6 stasiun sudah terlewati mengantarkan penumpangnya menuju setasiun depok baru. volume penumpang yang sudah pada puncaknya membuat ruang kereta semakin penuh sesak. Ruang yang terbatas membuat puluhan penumpang lainnya memilih duduk di atap kereta. Laju kereta meliuk bak ular raksasa mengikuti alurnya terkadang miring kekiri, kadang miring kekanan, membuat seisi penumpang semakin terjepit. Ada yang berdiri dengan satu kaki, bahkan ada yang berdiri tepat dipintu yang terbuka mengandalkan kekuatan jemarinya yg mulai pegal.</p>
<p>percakapan kecil ku berhasil memancing Lola (mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta yang sedang PKL di Jakarta) ke obrolan yang lebih jauh.</p>
<p>&#8220;stasiun Dukuh Atas? bukanya kereta ini ke arah stasiun kota, terus  turun dimana?&#8221; tanya lola penasaran.</p>
<p>&#8220;iya sih harusnya aku turun di stasiun Depok tadi, terus nyambung dgn kreta ekonomi AC jurusan tanah abang untuk kmudian turun di stasiun Dukuh Atas, tapi.. berhubung kita keasyikan ngobrol yaa ga apa-apalah, masih banyak jalan menuju Roma he he&#8221;</p>
<p>&#8220;kita..? situ kali gw ngga&#8221; tukasnya seraya mengangkat alisnya disusul tawa geli</p>
<p>Percakapan terus berlanjut seiring dengan beberapa setasiun yang terlewati, tak biasanya perbincangan dengan orang yang baru asing jadi seakrab ini. mungkin aku berada di tempat, waktu dan sikon yang tepat, dan tentunya kereta yang tepat. Terasa tentram bisa bercanda-canda dengan wanita secantik lola, tidak peduli dengan sesaknya penumpang dan celotehan disana-sini. semua seperti membisu bahkan suara kereta nyaris tak terdengar. binar matanya bak berlian berkilauan diantara besi besi gerbong tua, suara merdunya mengalun seperti petikan harpa di bisingnya desir kereta, walah- walah mengharap dari sekedar pertemuan sesaat. tapi semua bisa terjadi. Tuhan sedang baik pagi ini.</p>
<p>terahir sebelum percakapan terputus karena aku harus turun di stasiun Cikini, ku keluarkan jurus terahir</p>
<p>&#8220;oya, la punya obeng??&#8221;</p>
<p>&#8221; huh mau nanya no hp pasti!&#8221; dengan sekejap jurus ku dipatahkan.</p>
<p>&#8220;iya, ada kan la?&#8221; tanya ku sambil berharap</p>
<p>&#8220;maaf ya&#8230; soalnya suka banyak yang iseng nelp ke hp gw&#8221;</p>
<p>&#8220;jangan samakan dong la sama yang lain&#8221;  bujuk ku,</p>
<p>aku tau orang-orang disekitarku mendoakan keberhasilan dalam membujuk lola, ada yang membisikan ayo! kamu bisa!. ada yg meneriakan yel-yel dalam hatinya &#8220;Ayo&#8230;ayo!&#8221; ada juga yang berekspresi seperti seolah-olah menonton jagoan kesebelasannya sebentar lagi menjebol gawang musuh.</p>
<p>Stasiun Cikini terlihat dijejali penumpang yang baru turun dari kereta, hawa panas didalam kereta berganti dengan segarnya udara di luar gerbong. Ratusan penumpang turun dari kereta seperti air yang meluber dari bejana. Pakaian lusuh dan basah akan kering diluar sini. terlihat sesekali para penumpang merapikan barang-barang yang dibawanya, ada pula yang bertengkar karena saling dorong keluar dari kereta, akh pemandangan biasa. Lola tak terlihat lagi setelah pergumulan dengan manusia-manusia kereta ini. hmm gagal ku minta no kontak nya, ntah kapan ku bertemu dengannya lagi, bila saja aku punya kartu nama mungkin keadaannya sedikit berbeda, dia simpan no kontakku dan suatu saat menghubungiku. sudahlah, jam sudah menunjukan pukul 08:14  itu artinya aku terlambat 14 menit. ayo Semangat- Semangat! aku mendadak jadi sedikit lesu, ntah karena lelah berdiri dan berhimpitan di kereta dari Bogor hingga Jakarta, atau lesu karena tidak dapat no handphone si Lola yang tinggi semampai itu. sambil menuruni anak tangga stasiun pandangan ku tak fokus mengingat kejadian-kejadian tadi. Aku masih harus naik bus patas di seberang jalan sekitar 500 meter dari stasiun. beberapa teman kereta menyapa sambil bergegas karena terlambat. dipikiranku terbersit untuk menaiki kereta yang sama, gerbong yang sama dan jam yang sama esok hari, hanya dengan cara itu mungkin bisa bertemu lagi dengan dia. Sambil berjalan aku terus tertegun. deretan toko-toko kerajinan rotan tampak sepi saat itu. Dan waktu pun terus berlalu hingga sampailah di sisi jalan raya untuk bersiap untuk menyebrang.</p>
<p>Ups pandanganku terbelalak seakan tak percaya, sambil mengernyitkan dahi tertuju ke satu titik diseberang jalan. Ya.. si Lola sedang menunggu bis disana sambil tertawa kecil melambai-lambai kerahku. Seakan tak percaya ku ikuti saja kemana kaki ini melangkah bak adegan film romance  india dengan slow motion nya, ku tahan senyumku dan kuhampiri dia.</p>
<p>&#8220;Lha La kok dikau turun di Cikini juga, bukannya..&#8221;</p>
<p>&#8220;emang, gw turun diCikini gw juga ga nyangka lu turun disini ?!&#8221; sambungnya</p>
<p>&#8220;oiya ya saking asyiknya kita ngobrol, sampai lupa nanya turun distasiun mana? tau gitu tadi kita barengan&#8221; ungkapku (dengan hati berbunga ..)</p>
<p>&#8220;kita..?!&#8221;</p>
<p>&#8220;situ kali sama sumur&#8221; sambungku so&#8217; asyik tapi berhasil bikin lola ketawa (duh senangnya)</p>
<p>&#8220;dasar..! ha ha ha ha. Ton tau ga, gw juga ga sengaja naik kereta ekonomi. biasanya naik yang express&#8221;</p>
<p>&#8220;biasanya klo udah keenakan naik KRL express, ogah naik yang ekonomi, udah wangi dari rumah pudar deh wanginya&#8221; jawab ku</p>
<p>&#8220;iya neh abis mau gimana lagi namanya juga ketelatan dari jadwal keberangkatan KRL express, btw besok-besok kita janjian yuk&#8221; ucapnya dengan wajah merona, asli kata-kata terahir tadi enak sekali didengar.</p>
<p>&#8220;ayuk tapi gimana janjiannya? makanya minta no..&#8221;</p>
<p> Eh..Eh tuh bis gw udah dateng gw musti caw ton&#8221; terlihat nenggak-nenggak melihat kearah busnya yang menurutku terlalu cepat datang menghampiri.</p>
<p>&#8220;yaah.. la yaah.. urusan kita lom selesai neh&#8221;  nada ku melemah seraya menagih suatu yang tertunda padanya.</p>
<p>&#8220;hmm gw duluan ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;iya deh&#8221; sambil garuk-garuk kepala</p>
<p>&#8220;kapan jumpa lagi kita?&#8221; sambungku</p>
<p>&#8220;kapan-kapaan..!&#8221; ejeknya melihat muka ku yang seperti mau tumpah.</p>
<p>&#8220;huh lola?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nih..! tadi gw catet sambil jalan tadi&#8221; jemarinya tiba tiba mengulurkan secuil kertas dengan wajah tulus sedikit malu-malu menghadap kearah ku.</p>
<p>&#8220;Ayo mbak naek &#8211; naek &#8221; Seru knek bus sambil memukul-mukul pintu bus.</p>
<p>Lola pun menaiki bus kota tersebut lantas berlalu, wajahnya menghadapku sampai bus yang dinaikinya menghilang diantara kendaraan-kendaraan yang melaju. Tinggalah aku diantara orang-orang sekitar yang tersenyum-senyum sendiri. entah apa yang mereka pikirkan aku tak tahu. kubuka secarik kertas yang Lola berikan dan ternyata memang seperti yang ku harapkan, 2 nomor kontaknya dengan tulisan &#8220;jangan buat iseng yach&#8221;. Satu kalimat yang memiliki arti positif dalam melanjutkan hubungan ini kedepan, baiklah ini ending yang menyenangkan, sekelumit cerita dipagi hari yang membuat secangkir kopi terasa lebih nikmat di saat ku duduk di kantin samping kantorku. Hmm udara pagi ini sejuk sekali, jalan-jalan protokol masih basah diguyur hujan rintik tadi pagi. Dedaunan berjatuhan perlahan menambah semarak burung gereja yang saling bersahutan. Nampak dari kejauhan gedung-gedung bertingkat jelas terlihat tak tertutup kabut polusi seperti biasanya.</p>
<p>Kuhirup dalam-dalam buih kopiku, seraya memejamkan mata. &#8220;Trimakasih Tuhan kau dengan segala dayamu berikanku kekuatan positif untuk merubah semuanya jadi positif, akankah ini tetap indah dan penuh warna? &#8220;</p>
<p>Tidak ada yang tahu sampai ku kuhubungi si dia yang senyum manisnya masih saja melekat dihati.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulthonirachman.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulthonirachman.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=9&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/20/di-sudut-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0310fccc60ba5d5e78eacff5f1d3ece5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">oni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang!</title>
		<link>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/20/hello-world/</link>
		<comments>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/20/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 02:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sulthonirachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di sulthoni blog<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=1&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat datang di sulthoni blog</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sulthonirachman.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sulthonirachman.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sulthonirachman.wordpress.com&amp;blog=6242178&amp;post=1&amp;subd=sulthonirachman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sulthonirachman.wordpress.com/2009/01/20/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0310fccc60ba5d5e78eacff5f1d3ece5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">oni</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
